Senin, 11 November 2013

A.    SEJARAH SINGKAT

Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk “membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.

B.    MANFAAT.

1. Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2. Sebagai ikan hias.

C.    PERSYARATAN LOKASI.

  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
  5. Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif  rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
  6. Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.

D.    PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA.

1.    Persiapan Sarana dan Peralatan.
a.    Pembuatan Kolam
  • Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Dimensi kolam adalah 16M X 4M X 1M = 64M2.
  • Kolam tersebut dapat menampung 1000-1500 ekor ikan patin.
  • Pipa dipasang di sisi kolam sebagai saluran pembuangan, agar kolam tidak kepenuhan dan tumpah.
  • Setelah kolam diisi dengan air, campurkan air kolam dengan kapur yang telah dilarutkan sebanyak ± 2kg secara merata. Agar kadar keasaman air sesuai dengan habitat asli ikan patin.
Gbr. kolam Ikan Patin
b.    Pembuatan Pabrik dan Mesin Pembuat Pakan.

Pabrik dibuat dengan ukuran 4MX4M. Mesin yang digunakan untuk membuat pakan adalah mesin Domping.
Gbr. Pabrik pakan
2.    Penyiapan Bibit
Bibit ikan patin didapat/ dibeli dari Dinas Kelautan dan Perikanan DI kabupaten masing-masing.
Gbr. Bibit Patin
3.    Pemeliharaan dan Pembesaran.
  • Tahap awal yang dilakukan pada pemeliharaan dan pembesaran adalah dibuatkan tempat khusus di kolam yang telah tersedia seluas ±1M2 dengan bahan terbuat dari jala-jala kecil atau dalam aquarium. Kemudian masukan bibit ikan patin tersebut kedalam kolam kecil atau aquarium tersebut.

Gbr. Kolam dan Aquarium Pembesaran
  • Bibit yang didapatkan belum bias makan Pakan Butan/ Voer, sehingga harus diberikan pakan khusus berupa serbuk halus yang didapat dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanah Bumbu pada saat pembelian bibit ikan patin. Pemberian pakan serbuk husus ini berlangsung selama 2 minggu, sampai bibit sudah bias makan Pakan Buatan/ Voer.
  • Setelah bibit bisa makan Pakan Buatan/ Voer, barulah bibit ikan patin tersebut dilepaskan kekolam besar yang telah tersedia.
  • Pemberian Pakan dilakukan 2 Kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari bobot/ berat bibit peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan dalam kolam. Hal ini dapat diketahuai dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel).
Gbr. Bibit Ikan Patin Umur 2 Minggu
4.    Panen.
Ikan patin dapat dipanen setelah berumur 6 bulan dengan berat mencapai 600-700 gram/ekor.
a.    Penangkapan.
Penangkapan ikan dengan menggunakan Jaring Bagang.
Gbr. Proses Penangkapan
b.    Pembersihan.
Setelah ikan patin dipanen secara keseluruhan,kemudian dibersihkan. Setelah dibersihkan ikan patin siap di Jual Kepasaran.
Gbr. Proses Pembersihan

E.    HAMA DAN PENYAKIT

a.    Hama
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.
Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin. Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus), pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan keluar.

b. Penyakit
Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit noninfeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.

1) Penyakit akibat infeksi
Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.

a. Penyakit parasit
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian: menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.

b. Penyakit jamur
Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30 menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang sampai tiga hari berturut- turut.

c. Penyakit bakteri
Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain: (1) Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30–60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-10 ppm selama 12–24 jam, atau (3) merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.

2) Penyakit non-infeksi
Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi. Keracunan disebabkan oleh banyak faktor seperti pada pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan. Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.
-  Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
- Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih  yang berumur 1-2 bulan.
-   Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.
- Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai  ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.
- Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.

F.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PEMBESARAN

1.    Biaya Pembukaan Lahan (Tambak)
No
Uraian
Biaya
1
Upah Tukang
Rp.    900.000,-
2
Pipa Saluran Pembuanga
Rp.  1.000.000,-
3
Jaringan Bagang/ “Dari”
Rp.    850.000,-
4
Kincir
Rp.  1.450.000,-
5
Pabrik Bama
Rp.  1.700.000,-
6
Mesin Domping
Rp.  1.900.000,

Jumlah
Rp. 7.800,000
2.    Biaya Pembesaran dan Pakan
No Uraian Biaya
1 Bibi Ikan Patin 4000 ekor Rp.   1.400.000,-
2 Pakan Ikan Rp.   1.300.000,-
3 Pakan Ikan Buatan (Pelet) Rp.   9.500.000,-

Jumlah Rp. 12.200.000
3.    Panen

a.    Berat Total Ikan 1.936 Kg  
b.    Harga Pasaran  Rp. 13.500/ Kg
c.    Harga Jual             = 1.936 Kg X Rp. 13.500     = Rp. 26.136.000,-
d.    Modal Awal         = Rp. 21.000.000,- -
Keuntungan    = Rp. 5.136.000,-
Jadi Total Keuntungan Satu Kali Panen dalam masa pembesaran 6 bulan sebesar Rp. 5.136.000,-.

BUDIDAYA IKAN LELE KOLAM TERPAL

Panduan praktis budidaya ikan leleBudidaya ikan lele sangat diminati para peternak karena pasarnya yang terus berkembang. Pemerintah juga gencar memberikan dukungan melalui riset benih lele unggul dan kampanye gerakan makan ikan. Sehingga bermunculan sentra-sentra budidaya ikan lele di sejumlah daerah.
Untuk mendapatkan keuntungan maksimal, budidaya ikan lele sebaiknya tidak dilakukan secara sampingan atau sekadar kegiatan subsisten. Ikan lele sanggup hidup dalam kepadatan tebar yang tinggi dan memiliki rasio pemberian pakan berbanding pertumbuhan daging yang baik. Oleh karena itu, usaha budidaya ikan lele akan memberikan keuntungan lebih apabila dilakukan secara intensif.
Terdapat dua segmen usaha budidaya ikan lele, yaitu segmen pembenihan dan segmen pembesaran. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas budidaya ikan lele segmen pembesaran. Berikut kami uraikan tahap-tahap persiapannya.

Penyiapan kolam tempat budidaya ikan lele

Ada berbagai macam tipe kolam yang bisa digunakan sebagai tempat budidaya ikan lele. Untuk memutuskan kolam apa yang cocok, harap pertimbangkan kondisi lingkungan dan ketersediaan tenaga kerja terampil. Lalu, cocokkan dengan sumber dana yang kita miliki. Perlu diperhatikan bahwa setiap tipe kolam memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing bila ditinjau dari segi usaha budidaya.
Tipe-tipe kolam yang umum digunakan dalam budidaya ikan lele adalah kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Namun dalam artikel ini kita hanya membahas kolam tanah saja, mengingat jenis kolam ini paling banyak digunakan oleh para peternak ikan.

a. Pengeringan dan pengolahan tanah

Sebelum benih ikan lele ditebarkan, kolam harus dikeringkan telebih dahulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bergantung pada teriknya sinar matahari. Sebagai patokan, apabila permukaan tanah sudah retak-retak, kolam bisa dianggap sudah cukup kering. Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan bibit penyakit. Mikroorganisme tersebut bisa bekembang dari sisa-sisa priode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati.
Setelah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan cangkul. Pembajakan tanah diperlukan untuk memperbaiki kegemburan tanah dan membuang gas beracun yang tertimbun di dalam tanah. Selain penggemburan, lakukan pengangkatan lapisan lumpur hitam berbau busuk yang biasanya terdapat di dasar kolam. Karena lumpur hitam tersebut menyimpan gas-gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terbentuk dari tumpukan sisa pakan yang tidak habis pada periode budidaya ikan lele sebelumnya.

b. Pengapuran dan pemupukan

Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan membantu memberantas mikroorganisme patogen. Jenis kapur yang digunakan adalah dolomit atau kapur tohor. Pengapuran dilakukan dengan cara ditebar secara merata di atas permukaan dasar kolam. Setelah ditebari kapur, balik tanah dengan cangkul agar kapur meresap ke bagian dalam. Dosis yang diperlukan untuk pengapuran dasar kolam adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Semakin asam tanah semakin banyak kapur yang dibutuhkan.
Langkah selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik ditambah urea dan TSP. Jenis pupuk organik yang digunakan bisa pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosis pupuk organik sebanyak 250-500 gram per meter persegi, pupuk urea 15 gram per meter persegi dan TSP 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan nutrisi bagi biota seperti fitoplankton dan cacing. Hewan atau tumbuhan tersebut berguna untuk makanan ikan lele alami.

c. Pengaturan air kolam

Ketinggian air yang ideal untuk budidaya ikan lele adalah 100-120 cm. Pengisian kolam harus dilakukan secara bertahap. Setelah kolam dipupuk, isi dengan air sampai batas 30-40 cm. Pada ketinggian tersebut sinar matahari masih bisa tembus hingga dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan baik. Kolam yang sudah ditumbuhi fitoplankton airnya akan berwarna kehijauan. Setelah satu minggu, baru benih ikan lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara berkala sesuai dengan pertumbuhan ikan lele sampai pada ketinggian ideal.

Pemilihan benih ikan lele

Tingkat kesuksesan budidaya ikan lele sangat ditentukan oleh kualitas benih yang ditebar. Benih yang akan digunakan dalam budidaya ikan lele hendaklah dari jenis benih unggul. Ada beberapa jenis ikan lele yang biasa dibudidayakan di Indonesia. Silahkan baca lebih lanjut mengenai jenis-jenis ikan lele budidaya. Dalam artikel ini kami merekomendasikan jenis ikan lele Sangkuriang yang dikembangkan BBPBAT Sukabumi. Alasannya, ikan lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan dari lele dumbo. Dimana kualitas dari lele dumbo yang saat ini beredar di masyarakat semakin menurun dari waktu ke waktu. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai ikan lele sangkuriang silakan baca asal-usul ikan lele sangkuriang.

a. Syarat benih unggul

Benih yang ditebar harus benih yang benar-benar sehat. Benih yang kualitasnya buruk tidak bisa menghasilkan dengan maksimal dan rentan terhadap serangan penyakit. Ciri-ciri benih yang sehat gerakannya lincah, tidak terdapat cacat atau luka dipermukaan tubuhnya, bebas dari bibit penyakit dan gerakan renangnya normal. Untuk menguji gerakan renangnya, coba tempatkan ikan pada arus air, jika ikan tersebut menantang arah arus air berarti gerakan renangnya normal.
Ukuran benih untuk budidaya ikan lele sebaiknya memiliki panjang sekitar 5-7 cm. Usahakan ukurannya rata agar ikan bisa tumbuh dan berkembang serempak. Dari benih sebesar itu, dalam jangka waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan didapatkan lele ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.

b. Cara menebar benih

Sebelum benih ditebar, lakukan penyesuaian iklim terhadap benih. Caranya, masukan benih yang baru datang dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit agar terjadi penyesuaian suhu tempat benih dengan suhu kolam sebagai lingkungan barunya. Miringkan wadah dan biarkan benih keluar dengan sendirinya. Metode ini bermanfaat mencegah stres pada benih.
Tebarkan benih ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Semakin baik kualitas air kolam, semakin tinggi jumlah benih yang bisa ditampung. Hendaknya tinggi air tidak lebih dari 40 cm saat benih ditebar. Hal ini menjaga agar benih ikan bisa menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernapas. Pengisian kolam berikutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan sampai mencapai ketinggian air yang ideal.

Pakan untuk budidaya ikan lele

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan lele. Ada banyak sekali merek dan ragam pakan di pasaran. Pakan ikan lele yang baik adalah pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari satu. FCR adalah rasio jumlah pakan berbanding bertumbuhan daging. Semakin kecil nilai FCR, semakin baik kualitas pakan. Untuk mencapai hasil maksimal dengan biaya yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan tambahan secara berimbang. Bila pakan pabrik terasa mahal, silahkan coba membuat sendiri pakan lele alternatif.

a. Pemberian pakan utama

Pakan yang baik harus mengandung nutrisi yang diperlukan oleh ikan lele. Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele harus banyak mengandung protein hewani. Secara umum kandungan nutrisi yang dibutuhkan ikan lele adalah protein (minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral. Berbagai pelet yang dijual dipasaran rata-rata sudah dilengkapi dengan keterangan kandungan nutrisi. Tinggal kita pandai-pandai memilih mana yang bisa dipercaya. Ingat, jangan sampai membeli pakan kadaluarsa. Apabila pakan dirasa terlalu mahal kita juga bisa membuat pakan alternatif, silahkan baca membuat sendiri pakan lele alternatif.
Pakan harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Secara umum setiap harinya ikan lele memerlukan pakan 3-6% dari bobot tubuhnya. Cara pemberiannya berdasarkan bobot ikan setiap 10 hari. Misalnya, ikan lele dengan bobot 50 gram memerlukan pakan sebanyak 2,5 gram (5% bobot tubuh) per ekor. Kemudian setiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberikan. Dua minggu menjelang panen, persentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari bobot tubuh.
Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan. Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih kecil harus lebih sering. Waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, sore dan malam hari. Harus diingat, ikan lele merupakan hewan nokturnal, aktif pada malam hari. Pertimbangkan pemberian makan lebih banyak pada sore dan malam hari. Pakan diberikan dengan ditebar. Si pemberi pakan harus jeli melihat reaksi ikan. Berikan pakan saat ikan lele agresif menyantap pakan dan berhenti apabila ikan sudah terlihat malas untuk menyantapnya.

b. Pemberian pakan tambahan

Selain pakan utama, bisa dipertimbangkan juga untuk memberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan sangat menolong menghemat biaya pengeluaran pakan yang memang cukup menguras kantong. Apabila kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, bisa dipertimbangkan pemberian ikan rucah segar. Ikan rucah adalah hasil ikan tangkapan dari laut yang tidak layak dikonsumsi manusia karena ukuran atau cacat dalam penangkapannya. Bisa juga dengan membuat belatung dari campuran ampas tahu.
Keong mas dan limbah ayam bisa diberikan dengan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahannya bisa dilakukan dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicincang. Untuk ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan pada lele.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pakan ikan lele, jangan sampai telat atau kurang. Karena ikan lele mempunyai sifat kanibal, yakni suka memangsa sejenisnya. Apabila kekurangan pakan, ikan-ikan yang lebih besar ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.

Pengelolaan air

Hal penting lainnya dalam budidaya ikan lele adalah pengelolaan air kolam. Walaupun ikan lele bisa hidup dalam kondisi air yang buruk, untuk mendapatkan hasil maksimal kualitas dan kuantitas air harus tetap terjaga.
Awasi kualitas air dari timbunan sisa pakan yang tidak habis di dasar kolam. Timbunan tersebut akan menimbulkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk. Oleh karena itu, apabila sudah muncul bau busuk, buang sepertiga air bagian bawah. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi pembuangan air sangat tergantung pada kebiasaan memberikan pakan. Apabila dalam memberikan pakan banyak menimbulkan sisa, pergantian air akan lebih sering dilakukan. Selain itu, apabila air terlihat berkurang karena penguapan atau kebocoran kolam, segera tambahkan.

Pengendalian hama dan penyakit

Hama yang paling umum dalam budidaya ikan lele antara lain hama predator seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Sedangkan hama yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair. Untuk mencegahnya yaitu dengan memasang saringan pada jalan masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam.
Penyakit pada budidaya ikan lele bisa datang dari protozoa, bakteri dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan berbagai penyakit yang mematikan. Beberapa diantaranya adalah bintik putih, kembung perut dan luka di kepala dan ekor. Untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi adalah dengan menjaga kualitas air, mengontrol kelebihan pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan suhu kolam pada kisaran 28oC. Selain penyakit infeksi ikan lele juga bisa terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain. Untuk mengetahui lebih jauh tentang pengendalian penyakit silahkan baca pengendalian hama dan penyakit ikan lele.

Panen budidaya ikan lele

Pemanenan budidaya ikan lele untuk konsumsi dalam negeri biasanya berukuran 9-12 kg per ekor. Untuk mencapai ukuran konsumsi dari benih sebesar 5-7 cm dibutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3,5 bulan dari awal benih ditebar. Sedangkan untuk ekspor, berat ikan lele bisa mencapai 500 gram per ekor.
Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati. Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya ikan lele tidak diberi pakan agar tidak buang kotoran saat diangkut. Pada saat ikan lele dipanen hendaknya disortasi terlebih dahulu untuk misahkan lele berdasarkan ukurannya. Pemisahan ukuran ini berdampak pada harga. Ikan lele yang sudah disortasi berdasarkan ukuran akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.

PERANAN BENIH BERMUTU TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN


I.     PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan upaya sadar yang sengaja direncanakan untuk melakukan perubahan-perubahan yang dikehendaki, dengan menggunakan inovasi dan teknologi tertentu yang sesuai dengan potensi agroekosistem setempat agar dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup petani. Pembangunan pertanian telah berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.
Salah satu program utama pembangunan pertanian di Indonesia adalah  peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis. Pelaku utama dari kedua program tersebut adalah petani sebagai pihak pemilik sekaligus pelaksana kegiatan usaha tani.
Tujuan program peningkatan ketahanan pangan adalah meningkatnya produksi dan ketersediaan beras secara berkelanjutan serta meningkatnya produksi, ke-tersediaan, dan konsumsi pangan sumber karbohidrat non beras dan    pangan sumber protein,  meningkatnya keanekaragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat dan menurunnya konsumsi beras per kapita,  berkembangnya pola distribusi pangan yang mampu menjamin keterjangkauan pangan oleh masyarakat seara fisik dan ekonomi, berkembangnya sistem kelembagaan    pangan di masyarakat yang partisipatif dalam menangani kerawanan pangan, meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, meningkatnya produksi  dan kualitas pangan seiring dengan peningkatan pendapatan para petani dan pelaku agribisnis lainnya, menurunnya volume impor bahan pangan dan meningkatnya bahan pangan substitusi impor, berkembangnya industri dan bisnis pangan dan meningkatnya partisipasi masyarakat dan investasi swasta dalam pengembangan bisnis pangan.
Padi merupakan salah satu komoditas strategis dan bernilai ekonomis, serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat merupakan salah satu tanaman yang diprioritaskan dalam ketahanan pangan Beberapa tahun terakhir kebutuhan padi terus meningkat, hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan untuk pangan.
Saat ini daerah penghasil padi sudah cukup banyak, produksinya pun sudah cukup tinggi. Dengan adanya perkembangan teknologi pemuliaan tanaman padi yang semakin maju (canggih), telah banyak diperkenalkan berbagai macam varietas unggul padi, seperti Ciherang, IR 64, dan lain-lain.
Budidaya tanaman padi di Indonesia sebenarnya sudah menggunakan teknologi yang cukup, akan tetapi ada hal yang sangat berperan dalam peningkatan produksi tanaman padi tersebut, yaitu penggunaan benih yang bermutu. Melihat keadaan petani sekarang lebih banyak menggunakan benih yang kurang bermutu, dikarenakan kurangnya pengetahuan pentingnya penggunaan benih bermutu. Untuk itu, pada makalah ini akan diangkat dengan tema “Peranan Benih Bermutu Terhadap Peningkatan Produksi Tanaman”.


B.       Tujuan
1.      Mengetahui sistem untuk mendapatkan benih bermutu.
2.      Proses pelaksanaan benih bisa terlaksana sesuai Standar Operasional Prosedur.
C.       Manfaat
1.      Petani bisa menggunakan benih yang bermutu pada usaha tani.
2.      Pihak yang berwenang (Balai Sertifikasi Benih) dapat merekomendasikan bahwa benih yang ada bisa diaplikasikan di lapangan.


II.  TINJAUAN PUSTAKA

A.      Benih
Berdasarkan Undang-Undang RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 4, benih didefinisikan sebagai berikut “Benih tanaman, selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman”.
Dari definisi di atas jelas bahwa benih dapat diperoleh dari perkembangbiakkan secara generatif maupun secara vegetatif yang diproduksi untuk tujuan tertentu, yaitu mengembangbiakkan tanaman. Dengan pengertian ini maka kita dapat membedakan antara benih (agronomy seed/seed) dengan biji (grain) yang dipakai untuk konsumsi manusia (food stuff) dan hewan (feed).
Untuk memproduksi benih ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain :
1.    Produksi benih harus memenuhi persyaratan sertifikasi benih (seed law) yang berlaku di negara benih tersebut akan diusahakan.
2.    Pemeliharaan varietas yang berhubungan dengan sifat genetis benih. Sifat genetis benih ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a.       Terjadinya polusi kromosom bagi varietas berserbuk silang, baik yang berasal dari varietas lain yang diusahakan di sekitarnya maupun yang berasal dari tanaman lain yang terdapat di lahan.
b.      Kondisi ekologis, jika suatu varietas diusahakan dalam kondisi ekologis yang tidak sesuai dengan persyaratan tumbuhnya secara terus menerus, maka akan terjadi perubahan sifat genetis.
c.       Input produksi harus optimal sehingga kualitas benih baik.
d.      Pengelolaan di lahan dilakukan sebaik mungkin.
e.       Serangan hama dan penyakit.
3.    Penentuan saat panen.
4.    Penanganan pasca panen.
5.    Rantai pemasaran.
B.       Proses Perkecambahan Benih
Proses awal perkecambahan adalah proses imbibisi, yaitu masuknya air ke dalam benih sehingga kadar air dalam benih mencapai persentase tertentu (antara 50 – 60 %). Proses perkecambahan dapat terjadi jika kulit benih permeable terhadap air dan tersedianya cukup air dengan tekanan asmosis tertentu.
C.       Faktor-Faktor Perkecambahan
Benih dapat berkecmbah bila tersedia set of factors selama terjadi proses perkecambahan itu. Set of factor terdiri dari :
1.         Air
Air merupakan salah satu faktor yang mutlak di perlukan dan tidak dapat di gantikan oleh faktor lain, seperti pemberian ransang atau perlakuan untuk memacu agar benih dapat berkecambah.
2.         Komposisi Gas
Benih yang berimbibisi akan meningkatkan laju respirasi karena kenaikan aktivitas enzim pernafasan akan mengakibatkan kebutuhan O2 juga meningkat. Proses ini sering disebut proses peragian.Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju pernafasan dan di pengaruhi oleh suhu, cahaya dan mikrorganisme yang tedapat pada benih.
Benih-benih varietas tertentu seringkali membutuhkan komposisi gas di udara yang khusus (Rasio O2 : CO2). Hal ini dapat di jumpai pula pada benih-benih yang menua (telah mengalami deteriosasi). Seringkali di jumpai benih dengan kulit benih yang permeable terhadap gas-gas. Sifat ini akan menghambat pernafasan atau bahkan menyebabkan proses ini tidak dapat berlangsung yang mengakibatkan tidak terjadinya proses perkecambahan. Untuk mengatasinya perlu diberi perlakuan  secara fisik, mekanis, kimiawi ataupun biologis sehingga kulit benih permeable terhadap gas.
Di samping oksigen yang sangat di butuhkan untuk pernafasan, di udara juga terdapat gas H2 yang dapat member pengaruh yang positif terhadap pernafasan. Sedangkan gas N2 bersifat negative atau menghambat pernafasan. Oleh karena itu gas N2 sering di berikan kedalam tempat penyimpanan benih agar laju pernafasan dapat di tekan seminimal mungkin. Pemberian gas N2 dapat menekan perombakan cadangan makanan.
3.         Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih, karena suhu berkaitan erat dengan laju pernafasan dan aktifitas enzim yang terdapat di dalam benih tersebut. Suhu juga mempengaruhi sintesis dan ke pekaan benih terhadap di pengaruhi oleh aktivitas cahaya. Di pihak Lain suhu juga di pengaruhi oleh aktifitas pernafasan karena hasil akhir dari pernafasan adalah energy dan air.
Suhu yang di butuhkan selama proses perkecambahan dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
a.       Suhu minimal, yaitu suhu terendah dimana benih masih dapat berecambah secara normal.
b.      Suhu optimum, yaitu suhu yang paling sesuia untuk perkecambahan benih.
c.       Suhu maksimal, yaitu suhu tertinggi di mana benih masih dapat berkecambah secara normal dan apabila benih berkecambah di atas suhu maksimal maka benih akan berkecambah dengan tidak normal bahkan tidak berkecambah.
4.         Cahaya
Selama proses perkecambahan ada benih yang membutuhkan cahaya, terutama benih yang memiliki pigment pada kulit benihnya, karena pigment ini berfungsi sebagai fotosel yang mampu mengubah cahaya matahari menjadi energi yang dapat membantu meningkatkan laju respirasi  dan sebagai energi untuk reaksi kimiawi yang bersifat endodermis.
a.    Pengaruh Intensitas Cahaya
Kebutuhan cahaya selama proses perkecambahan dapat diklasifikasikan sebaga berikut:
1.         Ada benih yang membutuhkan cahaya matahari selama proses perkecambahannya, sehingga harus di sebarkan di atas lahan untuk mengkecambahkannya.
2.         Ada benih yang tidak membutuhkan cahaya matahari selama proses perkecambahan, sehingga untuk proses mengecambahkannya benih tersebut dapat di benamkan di dalam tanah.
3.         Ada benih yang membutuhkan cahaya yang intensitasnya berganti, misalnya terang–gelap.
b.    Pengaruh Panjang Gelombang
Seperti di ketahui cahaya memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda dan hal ini sangat mempengaruhi proses perkecambahan benih. Pengaruh panjang gelombang terhadap perkecambahan dapat di bedakan menjadi
1.      Cahaya dengan panjang gelombang < 2900 A0 akan menghambat perkecambahan benih.
2.      Cahaya dengan panjang gelombang antar 2900 A0 – 4000 A0 engaruhnya terhadap perkecambahan tidak jelas atau tidak mempengaruhi perkecambahan.
3.      Cahaya dengan panjang gelombang antara 4000 A0 – 7000 A0 akan memacu perkecambahan.

D.      Pengujian Mutu Benih
Tujuan dari pengujian mutu benih adalah untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok benih yang akan digunakan untuk keperluan penanaman. Macam-macam pengujian mutu benih yang dapat dilakukan di laboratorium benih dibedakan atas 2 golongan, yaitu :
1.    Pengujian Standar
Adalah pengujian-pengujian untuk keperluan pengisian/pengecekan data label yang umumnya terdiri dari :
a.       Penetapan kadar air
b.      Pengujian kemurnian fisik
c.       Penetapan varietas lain
d.      Pengujian daya tumbuh
2.    Pengujian khusus/spesifik
Adalah pengujian tentang sifat-sifat benih yang mencirikan mutu spesifik dari benih atau kelompok benih yang hanya dilakukan atas permintaan khusus dari pengirim/pemilik benih. Pengujian khusus terdiri dari :
a.       Pengujian viabilitas benih secara biokhemis
b.      Penetapan berat 1.000 butir
c.       Pengujian heterogenitas kelompok benih
d.      Pengujian kesehatan benih
e.       Pengujian kebenaran/verifikasi jenis/kultivar
f.       Pengujian vigor

III.             METODE KERJA

A.      Pengambilan Contoh Benih
Sebagai langkah pertama dalam pengujian mutu benih adalah menyediakan contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah idtentukan oleh ISTA.
Tujuan penarikan contoh adalah untuk mendapatkan contoh benih yang mewakili kelompok benih dalam jumlah yang cukup untuk keperluan pengujian mutu benih. Benih pertanian dan holtikultura : untuk benih yang berukuran seperti Triticum spp atau lebih besar, berat maksimum untuk setiap kelompok benih adalah 20.000 kg. untuk benih yang lebih kecil dari Triticum spp, berat maksimumnya adalah 10.000 kg. benih pohon-pohonan : untuk benih yang berukuran seperti benih Fagus spp atau lebih besar, berat maksimumnya adalah 5.000 kg. untuk benih yang lebih kecil dari benih Fagus spp berat maksimumnya adalah 1.000 kg.
Prinsip pengambilan contoh benih adalah mengambil benih dari beberapa bagian dari suatu kelompok benih yang kemudian dicampur menjadi satu. Penarikan contoh dilakukan dengan mengambil benih dari berbagai sudut pada wadah terpilih dalam jumlah yang sama. Pada saat penarikan contoh, tangan dimasukkan dengan telapak tangan terbuka, dan pada saat dikeluarkan jari-jari tangan hendaknya menggenggam benih secara rapat, sehingga tidak ada satu pun benih yang terlepas ketika tangan dikeluarkan dari dalam wadah.
Benih-benih yang terambil dari setiap pengambilan contoh ini disebut contoh primer, sedangkan gabungan contoh-contoh primer disebut contoh komposit. Contoh benih yang diambil secara acak dari contoh komposit ini dapat digunakan sebagai contoh kiriman seberat 1.000 gram. Dari contoh kiriman ini kemudian diambil contoh kerja secara acak sebanyak 70-75 gram.
Adapun cara untuk mengambil benih contoh kerja menggunakan alat Seed Devider. Langkah-langkahnya antara lain :
a.    Benih contoh kiriman seberat 1.000 gram dimasukkan ke dalam Seed Devider.
b.    Pada Seed Devider terdapat dua tempat pemisah/pembagi berat yang seimbang (50:50).
c.    Pada ulangan pertama, tempat pemisah tersebut diberi tanda bagian A dan bagian B.
d.   Setelah benih dipisahkan pada dua tempat, maka diambil bagian A untuk dimasukkan ke dalam Seed Devider dan bagian B dimasukkan ke dalam kantong plastik.
e.    Kemudian hasil dari pemisahan bagian A tadi menjadi dua bagian, maka dilakukan pergantian bagian yang dimasukkan ke Seed Devider (bagian B), begitu selanjutnya sampai kira-kira kita bisa mendapatkan benih contoh kerja dengan berat 70-75 gram (74,14 gram).

B.       Penetapan Kadar Air
1.    Tujuan
                        Untuk mengetahui kadar air benih dengan menggunakaan metode yang sesuai bagi keperluan rutin.
2.    Definisi
                        Kadar air benih adalah berat air yang hilang karena pemanasan atau air yang dapat di kumpulkan karena destilasi (dengan cara yang di tetapkan ) yang dinyatakan dalam persen terhadap berat asli contoh benih. Metode yang di tetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanyak mungkin tetapi dapat menekan terjadinya oksidasi , dekomposisi, atau hilangnya zat-zat yang mudah menguap.
3.    Prinsip
                        Metode yang di tetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanayak mungkin tetapi dapat menekan terjadinya oksidasi, dekomposisi, atau hilangnya zat-zat yang mudah menguap.
4.    Bahan dan Alat
Bahan :
-            Benih yang akan di uji dari contoh kerja
Peralatan :
-            Alat penghancur benih (seed grinder)
-            Oven
-            Desikator
-            Wadah
-            Cawan petri tertutup
-            Saringan
-            Timbangan analitik
-            Moisture tester
5.    Prosedur
a.    Contoh kerja benih
-       Metode oven : 4 – 5 gram (2 ulangan)
-       Metode moisture tester : di sesuaikan dengan contoh kiriman
b.    Pengeringan pendahuluan
Apabila benih memiliki kadar air tinggi (dicheck dengan moisture tester) dengan ketentuan : kedelai >10%, padi >13%, benih lain >17%.
a)    Untuk benih dengan kadar air > 20%
-         Contoh kerja seberat 50 gram.
-         Kadar air jagung  > 25% pengeringan pendahuluan dengan suhu 70o C selama 2 – 5 jam.
-         Kadar air benih lain > 30% pengeringan pendahuluan selama 1 malam di tempat yang hangat (di atas oven yang di hidupkan).
b)   Untuk benihdengan kadar air  < 20%
-         Contoh kerja 10 gram di masukkan kedalam cawan petri yang sudah di ketahui beratnya, kemudian di keringkan ke dalam oven dengan suhu 130o–133o C selama 5–10 menit.
Setelah selesai proses pengeringan pendahuluan benih di biarkan dalam keadaan terbuka selama 1-2 jam supaya dingin, kemudian ditimbang dengan ketelitian 3 desimal.

c.    Metode oven
a)         Sebelum di gunakan , wadah (cawan petri + tutup) di panaskan di oven dengan suhu 130oC selama 1 jam, kemudian di dinginkan dalam desikator.
b)        Setelah dingi cawan petri + tutup di timbang (M1 gram) kemudian dimasukkan contoh kerjanya dan ditimbang lagi (M2 gram).
c)         Masukkan ke dalam oven setelah suhu mencapai 130oC – 133oC dengan waktu tergantung jenis benih dengan tutup cawan petri terbuka. Untuk benih jagung 4 jam, padi 2 jam, benih lain 1 jam.
d)        Setelah pengeringan cawan di tutup di letakkan dalam desikator selama 30 - 45 menit.
e)         Setelah dingin wadah + isi + tutup di timbang (M3 gram).
6.    Perhitungan
Menggunakan metode oven
Kadar air oven = (M2 – M3) X 100%
                    (S1)             (M2 – M1)
            Keterangan :
M1 : berat wadah + tutup dalam gram.
M2 : berat wadah + isi + tutup dalam gram sebelum di keringkan.
M3 : berat wadah + isi + tutup dalam gram sesudah di kringkan

Untuk pengeringan pendahuluan rumus kadar air adalah
Kadar air pendahuluan  = (S1 + S2) – S1 x S2
                                                                           100%

Keterangan :
S1 : kadar air pada pengeringan pertama ( pengeringan pendahuluan).
S2 : kadar air pada pengeringan ke dua (oven).


Toleransi
Antara kedua contoh kerja tersebut maximum 0,2%, apabila perbedaan contoh kerja lebih dari 0,2% maka harus di ulang kembali.

7.    Hasil
Dik
M1 Berat cawan petri + tutup
U1 = 56,277 gr            U2 = 56,862 gr
Berat isi
U1 = 4,987 gr              U2 = 4,993 gr
M2 berat cawan + isi + tutup sebelum dioven
U1  = 61,213 gr           U2 = 61,855 gr
M3 Berat cawan + Isi + tutup sesudah dioven
U1 = 60,536                U2 = 61,178
Ulangan 1
M3  = (M2 – M3) x 100%
           (M2 – M1)
M3 = (61,213 – 60,536) x 100%
           (61,213 – 56,227)
      = 13,5%

Ulangan 2
M3  = (M2 – M3) x 100%
(M2 – M1)
M3 = (61,885 – 61,178) x 100%
           (61,885 – 56,862)
      = 13,5%
8.    Kesimpulan
-       Penetapan kadar air dengan menggunakan metode oven merupakan metode yang sangat akurat, tetapi memerlukan waktu yang lama dan ketelitian dalam pelaksanaan.
-       Penetapan kadar air dengan menggunakan alat pengukur kadar air (moinsture tester) memberikan hasil yang cepat dalammengukur kadar air, secara tidak langsung di pengaruhi oleh kandungan airnya.


C.       Analisis Kemurnian
1.    Tujuan
a.       Untuk menentukan komponen benih berdasarkan persentase berat komponen dalam contoh yang mencerminkan komposisi benih dalam lot.
b.      Mengidentifikasi benih tanaman dan kotoran dalam contoh benih.
2.    Prinsip
Pada prinsipnya analisis kemurnian di laboratorium adalah memisahkan contoh benih dalam 3 (tiga) komponen yaitu komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih.
3.    Definisi
a.       Benih murni
Benih murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau secara dominan di tentukan dalam contoh benihtermasuk jenis-jenis varietas lain dalam jenis tanaman tersebut.
b.      Benih tanaman lain
Benih tanaman lain adalah benih tanaman selain yang di masukkan oleh pengirim.
c.       Kotoran benih
Meliputi benih dan bagian dari benih serta bahan-bahan lain yang bukan bagian dari benih, seperti :
a.       Benih yang terlihat jelas bukan benih sejati.
b.      Benih dari kulit benih yang sudah terkelupas semua.
c.       Pecahan benih dengan ukuran ½ atau kurang dari ½ ukuran normal.
d.      Benih rusak tanpa lembaga.
e.       Benih yang berubah warna dari abu-abu menjadi putih kecoklatan.
f.       Cangkang benih atau kulit benih.
g.      Bahan lain seperti pasir, batu, batang jerami, daun, tangkai bunga, dan lain-lain.
4.    Prosedur 
Untuk melakukan analisis kemurnian di perlukan penganbilan contoh kerja dengan cara menimbang hingga di peroleh dalam satuan gram, yang kemudian memisahkan contoh kerja dalam komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih dengan cara sebagai berikut.
a.       Contoh kerja di sebarkan di meja kerja.
b.      Setiap benih di identifikasi satu persatu secara visual berdasarkan penampakan morfologis (bentuk, warna, kemengkilapan, tekstur luar) dan atau penampakan dibawah cahaya.
c.       Semuah benih tanaman lain dan kotoran benih yang di temukan, diambil dan dipisahkan dari benih murni.
d.      Setiap komponen di timbang dalam satuan gram dan di catat.
e.       Komponen-komponen tersebut disimpan sebagai arsip contoh kerja sampai batas yang ditentukan.
5.    Hasil
a.       Benih contoh kerja            = 74,14 gram
b.      Benih murni                      = 73,18 gram
c.       Varietas lain                      =   0,00 gram
d.      Kotoran                             =   0,96 gram
Maka, yang dicatat adalah bukan dalam bentuk gram tetapi dalam bentuk persen, sehingga didapat hasil sebagai berikut :
a.       Benih murni           = Benih murni (gr)            x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 73,18 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 98,7 %
b.      Varietas lain          = Varietas lain (gr)            x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 0,00 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 0,0 %
c.       Kotoran                 = Kotoran (gr)                   x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 0,96 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 1,3 %


D.      Pengujian Daya Kecambah
1.      Tujuan
Pengujian daya berkecambah bertujuan untuk menentukan potensi perkecambahan maksimum dari suatu lot benih, yang dapat di gunakan untuk membandingkan mutu benih dari lot yang berbeda, dan untuk menduga daya tumbuh di lapangan.
2.      Definisi
a.       Perkecambahan
Perkecambahan adalah proses perkembangan struktur esensial (system perakaran, tunas, kotiledon, titik tumbuh, dan koleoptil kecambah) melalui tahapan-tahapan dimana struktur esensial mampu berkembang secara normal dalam kondisi lingkungan yang sesuia.
b.      Benih-benih berkecambah yang sampai akhir periode pengujian di klasifikasikan menurut :
a)      Kecambah normal yaitu kecambah yang semua struktur esensialnya berkembang dengan baik, lengkap, proposional (seimbang) dan sehat.
b)     Kecambah abnormal yaitu kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk menjadi tanaman yang tumbuh normal.
Kecambah abnormal di kategorikan apabila :
1.      Kecambah rusak
2.      Kecambah cacat
3.      Kecambah busuk
c)      Benih keras ya itu benih yang tetap keras hingga akhir periode pengujian yang diakibatkan oleh kekerasan atau kekedapan kulitnya sehingga tidak mampu berimbibisi atau menyerap air.
d)     Benih segar tidak tumbuh yaitu benih yang tidak dapat berkecambah dalam kondisi optimum mampu berimbibisi dan masih bersih, kuat serta memiliki potensi  untuk berkembang menjadi kecambah normal.
e)      Benih mati yaitu benih yang pada akhir pengujian di tandai dengan benih busuk, lunak, bercendawan, berubah warna dan tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan kecambah.
3.      Bahan dan Alat
a.       Media tumbuh : kertas (kertas saring, bolter atau towel) dan pasir.
b.      Pinset, counter, germinator, bak perkecambahan dan aquadest.
4.      Pelaksanaan pengujian
-          Contoh kerja “empat ratus (400) buti di ambil dari fraksi benih murni”.
-          Metode tanam “benih di tabur dalam empak kali ulangan masing-masing 100 butir”.
a.       Pada kertas
            Benih di letakkan pada permukaan kertas basah yang terdiri dari 3 lapis kertas  yang telah diletakkan pada bak perkecambahan kemudian di lipat dan di gulungkemudian masukkan dalam kantong plastik setelah itu masukkan kedalam germinator dalam posisi berdiri.

b.      Pada pasir
            Benih di tabur dalam lubang-lubang yang telah di sediakan kemudian di taburi pasir lembab setebal 1-2 cm.
5.      Periode pengujian
         Periode pengujian untuk tiap-tiap jenis benih berbeda-beda tapi standar periode pengujiannya 7-10 hari. Untuk jumlah dan waktu pengamatantergantung dari analisis tetapi seminimal mungkin untuk menghindari kerusakan kecambah yang perkembangannya lambat.

Melihat dari apa yang dilakukan di atas, maka dapat dibuat skema sederhana tentang bagaimana prosedur melakukan pengujian benih standar. Gambar skema Pengujian Standar



IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A.      Kesimpulan
1.       Untuk mendapatkan benih yang bermutu harus melalui prosedur yang telah ditentukan.
2.      Dari hasil pelaksanaan praktik yang telah dilaksanakan, bahwa pada perlakuan benih mempunyai tahap yang saling berkaitan.
B.       Saran
1.       Pihak yang terkait selalu memperhatikan keadaan di lapangan tentang penggunaan benih bermutu.
2.       Petani mau menggunakan benih yang bermutu untuk meningkatkan produkstivitas tanaman
3.      Harus selalu ada sosialisai tentang penggunaan benih bermutu.