I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pembangunan
pertanian pada dasarnya merupakan upaya sadar yang sengaja direncanakan untuk
melakukan perubahan-perubahan yang dikehendaki, dengan menggunakan inovasi dan
teknologi tertentu yang sesuai dengan potensi agroekosistem setempat agar dapat
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup petani. Pembangunan pertanian
telah berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.
Salah satu program utama pembangunan pertanian di
Indonesia adalah peningkatan ketahanan pangan
dan pengembangan agribisnis. Pelaku utama dari kedua program tersebut adalah
petani sebagai pihak pemilik sekaligus pelaksana kegiatan usaha tani.
Tujuan program peningkatan ketahanan pangan adalah meningkatnya
produksi dan ketersediaan beras secara berkelanjutan serta meningkatnya
produksi, ke-tersediaan, dan konsumsi pangan sumber karbohidrat non beras
dan pangan sumber protein, meningkatnya keanekaragaman
dan kualitas konsumsi pangan masyarakat dan menurunnya konsumsi beras per
kapita, berkembangnya pola distribusi pangan yang mampu menjamin
keterjangkauan pangan oleh masyarakat seara fisik dan ekonomi, berkembangnya
sistem kelembagaan pangan di masyarakat yang partisipatif
dalam menangani kerawanan pangan, meningkatnya keberdayaan dan kemandirian
masyarakat dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, meningkatnya
produksi dan kualitas pangan seiring dengan peningkatan pendapatan para
petani dan pelaku agribisnis lainnya, menurunnya volume impor bahan pangan dan
meningkatnya bahan pangan substitusi impor, berkembangnya industri dan bisnis
pangan dan meningkatnya partisipasi masyarakat dan investasi swasta dalam
pengembangan bisnis pangan.
Padi merupakan salah satu komoditas strategis dan
bernilai ekonomis, serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena
kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat merupakan salah satu tanaman yang
diprioritaskan dalam ketahanan pangan Beberapa tahun terakhir kebutuhan padi
terus meningkat, hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan
jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan untuk pangan.
Saat ini daerah penghasil padi sudah cukup banyak,
produksinya pun sudah cukup tinggi. Dengan adanya perkembangan teknologi
pemuliaan tanaman padi yang semakin maju (canggih), telah banyak diperkenalkan
berbagai macam varietas unggul padi, seperti Ciherang, IR 64, dan lain-lain.
Budidaya tanaman padi di Indonesia sebenarnya sudah
menggunakan teknologi yang cukup, akan tetapi ada hal yang sangat berperan
dalam peningkatan produksi tanaman padi tersebut, yaitu penggunaan benih yang
bermutu. Melihat keadaan petani sekarang lebih banyak menggunakan benih yang
kurang bermutu, dikarenakan kurangnya pengetahuan pentingnya penggunaan benih
bermutu. Untuk itu, pada makalah ini akan diangkat dengan tema “Peranan Benih
Bermutu Terhadap Peningkatan Produksi Tanaman”.
B. Tujuan
1. Mengetahui
sistem untuk mendapatkan benih bermutu.
2. Proses
pelaksanaan benih bisa terlaksana sesuai Standar Operasional Prosedur.
C. Manfaat
1. Petani
bisa menggunakan benih yang bermutu pada usaha tani.
2. Pihak
yang berwenang (Balai Sertifikasi Benih) dapat merekomendasikan bahwa benih
yang ada bisa diaplikasikan di lapangan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Benih
Berdasarkan
Undang-Undang RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian BAB I
Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 4, benih didefinisikan sebagai berikut “Benih
tanaman, selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang
digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman”.
Dari definisi di
atas jelas bahwa benih dapat diperoleh dari perkembangbiakkan secara generatif
maupun secara vegetatif yang diproduksi untuk tujuan tertentu, yaitu
mengembangbiakkan tanaman. Dengan pengertian ini maka kita dapat membedakan
antara benih (agronomy seed/seed)
dengan biji (grain) yang dipakai
untuk konsumsi manusia (food stuff)
dan hewan (feed).
Untuk
memproduksi benih ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain :
1. Produksi
benih harus memenuhi persyaratan sertifikasi benih (seed law) yang berlaku di
negara benih tersebut akan diusahakan.
2. Pemeliharaan
varietas yang berhubungan dengan sifat genetis benih. Sifat genetis benih ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Terjadinya
polusi kromosom bagi varietas berserbuk silang, baik yang berasal dari varietas
lain yang diusahakan di sekitarnya maupun yang berasal dari tanaman lain yang
terdapat di lahan.
b. Kondisi
ekologis, jika suatu varietas diusahakan dalam kondisi ekologis yang tidak
sesuai dengan persyaratan tumbuhnya secara terus menerus, maka akan terjadi
perubahan sifat genetis.
c. Input
produksi harus optimal sehingga kualitas benih baik.
d. Pengelolaan
di lahan dilakukan sebaik mungkin.
e. Serangan
hama dan penyakit.
3. Penentuan
saat panen.
4. Penanganan
pasca panen.
5. Rantai
pemasaran.
B. Proses
Perkecambahan Benih
Proses awal
perkecambahan adalah proses imbibisi, yaitu masuknya air ke dalam benih
sehingga kadar air dalam benih mencapai persentase tertentu (antara 50 – 60 %).
Proses perkecambahan dapat terjadi jika kulit benih permeable terhadap air dan
tersedianya cukup air dengan tekanan asmosis tertentu.
C. Faktor-Faktor
Perkecambahan
Benih dapat berkecmbah bila
tersedia set of factors selama
terjadi proses perkecambahan itu. Set of factor terdiri dari :
1.
Air
Air merupakan salah satu faktor
yang mutlak di perlukan dan tidak dapat di gantikan oleh faktor lain, seperti
pemberian ransang atau perlakuan untuk memacu agar benih dapat berkecambah.
2.
Komposisi Gas
Benih
yang berimbibisi akan meningkatkan laju respirasi karena kenaikan aktivitas
enzim pernafasan akan mengakibatkan kebutuhan O2 juga meningkat. Proses ini
sering disebut proses peragian.Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju
pernafasan dan di pengaruhi oleh suhu, cahaya dan mikrorganisme yang tedapat
pada benih.
Benih-benih
varietas tertentu seringkali membutuhkan komposisi gas di udara yang khusus
(Rasio O2 : CO2). Hal ini dapat di jumpai pula pada benih-benih yang menua
(telah mengalami deteriosasi). Seringkali di jumpai benih dengan kulit benih
yang permeable terhadap gas-gas. Sifat ini akan menghambat pernafasan atau
bahkan menyebabkan proses ini tidak dapat berlangsung yang mengakibatkan tidak
terjadinya proses perkecambahan. Untuk mengatasinya perlu diberi perlakuan secara fisik, mekanis, kimiawi ataupun
biologis sehingga kulit benih permeable terhadap gas.
Di
samping oksigen yang sangat di butuhkan untuk pernafasan, di udara juga
terdapat gas H2 yang dapat member pengaruh yang positif terhadap pernafasan.
Sedangkan gas N2 bersifat negative atau menghambat pernafasan. Oleh karena itu
gas N2 sering di berikan kedalam tempat penyimpanan benih agar laju pernafasan
dapat di tekan seminimal mungkin. Pemberian gas N2 dapat menekan perombakan
cadangan makanan.
3.
Suhu
Suhu
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih, karena
suhu berkaitan erat dengan laju pernafasan dan aktifitas enzim yang terdapat di
dalam benih tersebut. Suhu juga mempengaruhi sintesis dan ke pekaan benih
terhadap di pengaruhi oleh aktivitas cahaya. Di pihak Lain suhu juga di
pengaruhi oleh aktifitas pernafasan karena hasil akhir dari pernafasan adalah
energy dan air.
Suhu
yang di butuhkan selama proses perkecambahan dapat di klasifikasikan sebagai
berikut:
a. Suhu
minimal, yaitu suhu terendah dimana benih masih dapat berecambah secara normal.
b. Suhu
optimum, yaitu suhu yang paling sesuia untuk perkecambahan benih.
c. Suhu
maksimal, yaitu suhu tertinggi di mana benih masih dapat berkecambah secara
normal dan apabila benih berkecambah di atas suhu maksimal maka benih akan
berkecambah dengan tidak normal bahkan tidak berkecambah.
4.
Cahaya
Selama
proses perkecambahan ada benih yang membutuhkan cahaya, terutama benih yang
memiliki pigment pada kulit benihnya, karena pigment ini berfungsi sebagai
fotosel yang mampu mengubah cahaya matahari menjadi energi yang dapat membantu
meningkatkan laju respirasi dan sebagai
energi untuk reaksi kimiawi yang bersifat endodermis.
a. Pengaruh
Intensitas Cahaya
Kebutuhan cahaya selama proses perkecambahan dapat
diklasifikasikan sebaga berikut:
1.
Ada benih yang membutuhkan cahaya
matahari selama proses perkecambahannya, sehingga harus di sebarkan di atas
lahan untuk mengkecambahkannya.
2.
Ada benih yang tidak membutuhkan cahaya
matahari selama proses perkecambahan, sehingga untuk proses mengecambahkannya
benih tersebut dapat di benamkan di dalam tanah.
3.
Ada benih yang membutuhkan cahaya yang
intensitasnya berganti, misalnya terang–gelap.
b. Pengaruh
Panjang Gelombang
Seperti di ketahui cahaya memiliki panjang gelombang
yang berbeda-beda dan hal ini sangat mempengaruhi proses perkecambahan benih.
Pengaruh panjang gelombang terhadap perkecambahan dapat di bedakan menjadi
1. Cahaya
dengan panjang gelombang < 2900 A0 akan menghambat perkecambahan benih.
2. Cahaya
dengan panjang gelombang antar 2900 A0 – 4000 A0 engaruhnya terhadap
perkecambahan tidak jelas atau tidak mempengaruhi perkecambahan.
3. Cahaya
dengan panjang gelombang antara 4000 A0 – 7000 A0 akan memacu perkecambahan.
D. Pengujian
Mutu Benih
Tujuan dari pengujian
mutu benih adalah untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok
benih yang akan digunakan untuk keperluan penanaman. Macam-macam pengujian mutu
benih yang dapat dilakukan di laboratorium benih dibedakan atas 2 golongan,
yaitu :
1. Pengujian
Standar
Adalah pengujian-pengujian untuk
keperluan pengisian/pengecekan data label yang umumnya terdiri dari :
a. Penetapan
kadar air
b. Pengujian
kemurnian fisik
c. Penetapan
varietas lain
d. Pengujian
daya tumbuh
2. Pengujian
khusus/spesifik
Adalah pengujian tentang
sifat-sifat benih yang mencirikan mutu spesifik dari benih atau kelompok benih
yang hanya dilakukan atas permintaan khusus dari pengirim/pemilik benih.
Pengujian khusus terdiri dari :
a. Pengujian
viabilitas benih secara biokhemis
b. Penetapan
berat 1.000 butir
c. Pengujian
heterogenitas kelompok benih
d. Pengujian
kesehatan benih
e. Pengujian
kebenaran/verifikasi jenis/kultivar
f. Pengujian
vigor
III.
METODE
KERJA
A. Pengambilan
Contoh Benih
Sebagai langkah pertama dalam pengujian mutu benih adalah menyediakan
contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah
idtentukan oleh ISTA.
Tujuan penarikan contoh adalah untuk mendapatkan contoh benih yang mewakili
kelompok benih dalam jumlah yang cukup untuk keperluan pengujian mutu benih.
Benih pertanian dan holtikultura : untuk benih yang berukuran seperti Triticum
spp atau lebih besar, berat maksimum untuk setiap kelompok benih adalah 20.000
kg. untuk benih yang lebih kecil dari Triticum spp, berat maksimumnya
adalah 10.000 kg. benih pohon-pohonan : untuk benih yang berukuran seperti
benih Fagus spp atau lebih besar, berat maksimumnya adalah 5.000 kg.
untuk benih yang lebih kecil dari benih Fagus spp berat maksimumnya
adalah 1.000 kg.
Prinsip pengambilan contoh benih adalah mengambil benih dari beberapa
bagian dari suatu kelompok benih yang kemudian dicampur menjadi satu. Penarikan
contoh dilakukan dengan mengambil benih dari berbagai sudut pada wadah terpilih
dalam jumlah yang sama. Pada saat penarikan contoh, tangan dimasukkan dengan
telapak tangan terbuka, dan pada saat dikeluarkan jari-jari tangan hendaknya
menggenggam benih secara rapat, sehingga tidak ada satu pun benih yang terlepas
ketika tangan dikeluarkan dari dalam wadah.
Benih-benih yang terambil dari setiap pengambilan contoh ini disebut contoh
primer, sedangkan gabungan contoh-contoh primer disebut contoh komposit. Contoh
benih yang diambil secara acak dari contoh komposit ini dapat digunakan sebagai
contoh kiriman seberat 1.000 gram. Dari contoh kiriman ini kemudian diambil
contoh kerja secara acak sebanyak 70-75 gram.
Adapun cara untuk mengambil benih contoh kerja menggunakan alat Seed
Devider. Langkah-langkahnya antara lain :
a.
Benih contoh kiriman seberat 1.000 gram dimasukkan ke
dalam Seed Devider.
b.
Pada Seed Devider terdapat dua tempat pemisah/pembagi
berat yang seimbang (50:50).
c.
Pada ulangan pertama, tempat pemisah tersebut diberi
tanda bagian A dan bagian B.
d.
Setelah benih dipisahkan pada dua tempat, maka diambil
bagian A untuk dimasukkan ke dalam Seed Devider dan bagian B dimasukkan ke
dalam kantong plastik.
e.
Kemudian hasil dari pemisahan bagian A tadi menjadi
dua bagian, maka dilakukan pergantian bagian yang dimasukkan ke Seed Devider
(bagian B), begitu selanjutnya sampai kira-kira kita bisa mendapatkan benih
contoh kerja dengan berat 70-75 gram (74,14 gram).
B. Penetapan
Kadar Air
1. Tujuan
Untuk
mengetahui kadar air benih dengan menggunakaan metode yang sesuai bagi
keperluan rutin.
2. Definisi
Kadar
air benih adalah berat air yang hilang karena pemanasan atau air yang dapat di
kumpulkan karena destilasi (dengan cara yang di tetapkan ) yang dinyatakan
dalam persen terhadap berat asli contoh benih. Metode yang di tetapkan
sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanyak mungkin tetapi dapat
menekan terjadinya oksidasi , dekomposisi, atau hilangnya zat-zat yang mudah
menguap.
3. Prinsip
Metode
yang di tetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanayak
mungkin tetapi dapat menekan terjadinya oksidasi, dekomposisi, atau hilangnya
zat-zat yang mudah menguap.
4. Bahan
dan Alat
Bahan :
-
Benih yang akan di uji dari contoh kerja
Peralatan :
-
Alat penghancur benih (seed grinder)
-
Oven
-
Desikator
-
Wadah
-
Cawan petri tertutup
-
Saringan
-
Timbangan analitik
-
Moisture tester
5. Prosedur
a. Contoh
kerja benih
-
Metode oven : 4 – 5 gram (2 ulangan)
-
Metode moisture tester : di sesuaikan
dengan contoh kiriman
b. Pengeringan
pendahuluan
Apabila benih memiliki kadar air
tinggi (dicheck dengan moisture tester) dengan ketentuan : kedelai >10%,
padi >13%, benih lain >17%.
a) Untuk
benih dengan kadar air > 20%
-
Contoh
kerja seberat 50 gram.
-
Kadar
air jagung > 25% pengeringan
pendahuluan dengan suhu 70o C selama 2 – 5 jam.
-
Kadar
air benih lain > 30% pengeringan pendahuluan selama 1 malam di tempat yang
hangat (di atas oven yang di hidupkan).
b) Untuk
benihdengan kadar air < 20%
-
Contoh
kerja 10 gram di masukkan kedalam cawan petri yang sudah di ketahui beratnya,
kemudian di keringkan ke dalam oven dengan suhu 130o–133o C
selama 5–10 menit.
Setelah selesai proses pengeringan
pendahuluan benih di biarkan dalam keadaan terbuka selama 1-2 jam supaya
dingin, kemudian ditimbang dengan ketelitian 3 desimal.
c. Metode
oven
a)
Sebelum di gunakan , wadah (cawan petri
+ tutup) di panaskan di oven dengan suhu 130oC selama 1 jam,
kemudian di dinginkan dalam desikator.
b)
Setelah dingi cawan petri + tutup di
timbang (M1 gram) kemudian dimasukkan contoh kerjanya dan ditimbang lagi (M2
gram).
c)
Masukkan ke dalam oven setelah suhu
mencapai 130oC – 133oC dengan waktu tergantung jenis
benih dengan tutup cawan petri terbuka. Untuk benih jagung 4 jam, padi 2 jam,
benih lain 1 jam.
d)
Setelah pengeringan cawan di tutup di
letakkan dalam desikator selama 30 - 45 menit.
e)
Setelah dingin wadah + isi + tutup di
timbang (M3 gram).
6. Perhitungan
Menggunakan
metode oven
Kadar
air oven = (M2 – M3) X 100%
(S1) (M2 – M1)
Keterangan :
M1
: berat wadah + tutup dalam gram.
M2
: berat wadah + isi + tutup dalam gram sebelum di keringkan.
M3
: berat wadah + isi + tutup dalam gram sesudah di kringkan
Untuk
pengeringan pendahuluan rumus kadar air adalah
Kadar
air pendahuluan =
(S1 + S2) – S1 x S2
100%
Keterangan
:
S1
: kadar air pada pengeringan pertama ( pengeringan pendahuluan).
S2
: kadar air pada pengeringan ke dua (oven).
Toleransi
Antara
kedua contoh kerja tersebut maximum 0,2%, apabila perbedaan contoh kerja lebih
dari 0,2% maka harus di ulang kembali.
7. Hasil
Dik
M1 Berat cawan petri +
tutup
U1
= 56,277 gr U2 = 56,862 gr
Berat isi
U1
= 4,987 gr U2 = 4,993 gr
M2 berat cawan + isi +
tutup sebelum dioven
U1 = 61,213 gr U2
= 61,855 gr
M3
Berat cawan + Isi + tutup sesudah dioven
U1
= 60,536 U2
= 61,178
Ulangan
1
M3 = (M2 – M3) x 100%
(M2 – M1)
M3 = (61,213
– 60,536) x 100%
(61,213 – 56,227)
= 13,5%
Ulangan 2
M3 = (M2 – M3) x 100%
(M2 – M1)
M3 = (61,885
– 61,178) x 100%
(61,885 – 56,862)
= 13,5%
8. Kesimpulan
-
Penetapan kadar air dengan menggunakan
metode oven merupakan metode yang sangat akurat, tetapi memerlukan waktu yang
lama dan ketelitian dalam pelaksanaan.
-
Penetapan kadar air dengan menggunakan
alat pengukur kadar air (moinsture tester) memberikan hasil yang cepat
dalammengukur kadar air, secara tidak langsung di pengaruhi oleh kandungan airnya.
C.
Analisis Kemurnian
1. Tujuan
a. Untuk
menentukan komponen benih berdasarkan persentase berat komponen dalam contoh
yang mencerminkan komposisi benih dalam lot.
b. Mengidentifikasi
benih tanaman dan kotoran dalam contoh benih.
2. Prinsip
Pada
prinsipnya analisis kemurnian di laboratorium adalah memisahkan contoh benih
dalam 3 (tiga) komponen yaitu komponen benih murni, benih tanaman lain, dan
kotoran benih.
3. Definisi
a. Benih
murni
Benih
murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau secara dominan
di tentukan dalam contoh benihtermasuk jenis-jenis varietas lain dalam jenis
tanaman tersebut.
b. Benih
tanaman lain
Benih
tanaman lain adalah benih tanaman selain yang di masukkan oleh pengirim.
c. Kotoran
benih
Meliputi
benih dan bagian dari benih serta bahan-bahan lain yang bukan bagian dari
benih, seperti :
a. Benih
yang terlihat jelas bukan benih sejati.
b. Benih
dari kulit benih yang sudah terkelupas semua.
c. Pecahan
benih dengan ukuran ½ atau kurang dari ½ ukuran normal.
d. Benih
rusak tanpa lembaga.
e. Benih
yang berubah warna dari abu-abu menjadi putih kecoklatan.
f. Cangkang
benih atau kulit benih.
g. Bahan
lain seperti pasir, batu, batang jerami, daun, tangkai bunga, dan lain-lain.
4. Prosedur
Untuk
melakukan analisis kemurnian di perlukan penganbilan contoh kerja dengan cara
menimbang hingga di peroleh dalam satuan gram, yang kemudian memisahkan contoh
kerja dalam komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih dengan
cara sebagai berikut.
a. Contoh
kerja di sebarkan di meja kerja.
b. Setiap
benih di identifikasi satu persatu secara visual berdasarkan penampakan
morfologis (bentuk, warna, kemengkilapan, tekstur luar) dan atau penampakan
dibawah cahaya.
c. Semuah
benih tanaman lain dan kotoran benih yang di temukan, diambil dan dipisahkan
dari benih murni.
d. Setiap
komponen di timbang dalam satuan gram dan di catat.
e. Komponen-komponen
tersebut disimpan sebagai arsip contoh kerja sampai batas yang ditentukan.
5. Hasil
a. Benih
contoh kerja = 74,14 gram
b. Benih
murni = 73,18 gram
c. Varietas
lain = 0,00 gram
d. Kotoran = 0,96 gram
Maka, yang dicatat adalah bukan
dalam bentuk gram tetapi dalam bentuk persen, sehingga didapat hasil sebagai
berikut :
a.
Benih
murni = Benih murni (gr) x 100 %
Benih contoh kerja (gr)
=
73,18 gr x 100 %
74,14 gr
=
98,7 %
b.
Varietas
lain = Varietas lain (gr) x 100 %
Benih contoh kerja (gr)
=
0,00 gr x 100 %
74,14 gr
=
0,0 %
c.
Kotoran = Kotoran (gr) x 100 %
Benih contoh kerja (gr)
=
0,96 gr x 100 %
74,14 gr
=
1,3 %
D. Pengujian
Daya Kecambah
1.
Tujuan
Pengujian
daya berkecambah bertujuan untuk menentukan potensi perkecambahan maksimum dari
suatu lot benih, yang dapat di gunakan untuk membandingkan mutu benih dari lot
yang berbeda, dan untuk menduga daya tumbuh di lapangan.
2.
Definisi
a. Perkecambahan
Perkecambahan
adalah proses perkembangan struktur esensial (system perakaran, tunas,
kotiledon, titik tumbuh, dan koleoptil kecambah) melalui tahapan-tahapan dimana
struktur esensial mampu berkembang secara normal dalam kondisi lingkungan yang
sesuia.
b. Benih-benih
berkecambah yang sampai akhir periode pengujian di klasifikasikan menurut :
a)
Kecambah normal yaitu kecambah yang
semua struktur esensialnya berkembang dengan baik, lengkap, proposional
(seimbang) dan sehat.
b)
Kecambah abnormal yaitu kecambah yang
tidak memperlihatkan potensi untuk menjadi tanaman yang tumbuh normal.
Kecambah
abnormal di kategorikan apabila :
1. Kecambah
rusak
2. Kecambah
cacat
3. Kecambah
busuk
c)
Benih keras ya itu benih yang tetap
keras hingga akhir periode pengujian yang diakibatkan oleh kekerasan atau
kekedapan kulitnya sehingga tidak mampu berimbibisi atau menyerap air.
d)
Benih segar tidak tumbuh yaitu benih
yang tidak dapat berkecambah dalam kondisi optimum mampu berimbibisi dan masih
bersih, kuat serta memiliki potensi
untuk berkembang menjadi kecambah normal.
e)
Benih mati yaitu benih yang pada akhir
pengujian di tandai dengan benih busuk, lunak, bercendawan, berubah warna dan
tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan kecambah.
3.
Bahan dan Alat
a. Media
tumbuh : kertas (kertas saring, bolter atau towel) dan pasir.
b. Pinset,
counter, germinator, bak perkecambahan dan aquadest.
4.
Pelaksanaan pengujian
-
Contoh kerja “empat ratus (400) buti di
ambil dari fraksi benih murni”.
-
Metode tanam “benih di tabur dalam empak
kali ulangan masing-masing 100 butir”.
a. Pada
kertas
Benih
di letakkan pada permukaan kertas basah yang terdiri dari 3 lapis kertas yang telah diletakkan pada bak perkecambahan
kemudian di lipat dan di gulungkemudian masukkan dalam kantong plastik setelah
itu masukkan kedalam germinator dalam posisi berdiri.
b. Pada
pasir
Benih
di tabur dalam lubang-lubang yang telah di sediakan kemudian di taburi pasir
lembab setebal 1-2 cm.
5.
Periode pengujian
Periode pengujian untuk tiap-tiap jenis
benih berbeda-beda tapi standar periode pengujiannya 7-10 hari. Untuk jumlah
dan waktu pengamatantergantung dari analisis tetapi seminimal mungkin untuk
menghindari kerusakan kecambah yang perkembangannya lambat.
Melihat
dari apa yang dilakukan di atas, maka dapat dibuat skema sederhana tentang bagaimana
prosedur melakukan pengujian benih standar. Gambar skema Pengujian Standar

![]() |
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Untuk mendapatkan benih yang bermutu harus
melalui prosedur yang telah ditentukan.
2. Dari
hasil pelaksanaan praktik yang telah dilaksanakan, bahwa pada perlakuan benih
mempunyai tahap yang saling berkaitan.
B. Saran
1. Pihak yang terkait selalu memperhatikan
keadaan di lapangan tentang penggunaan benih bermutu.
2. Petani mau menggunakan benih yang bermutu
untuk meningkatkan produkstivitas tanaman
3. Harus
selalu ada sosialisai tentang penggunaan benih bermutu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar