Senin, 11 November 2013

PERANAN BENIH BERMUTU TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN


I.     PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan upaya sadar yang sengaja direncanakan untuk melakukan perubahan-perubahan yang dikehendaki, dengan menggunakan inovasi dan teknologi tertentu yang sesuai dengan potensi agroekosistem setempat agar dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup petani. Pembangunan pertanian telah berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.
Salah satu program utama pembangunan pertanian di Indonesia adalah  peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis. Pelaku utama dari kedua program tersebut adalah petani sebagai pihak pemilik sekaligus pelaksana kegiatan usaha tani.
Tujuan program peningkatan ketahanan pangan adalah meningkatnya produksi dan ketersediaan beras secara berkelanjutan serta meningkatnya produksi, ke-tersediaan, dan konsumsi pangan sumber karbohidrat non beras dan    pangan sumber protein,  meningkatnya keanekaragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat dan menurunnya konsumsi beras per kapita,  berkembangnya pola distribusi pangan yang mampu menjamin keterjangkauan pangan oleh masyarakat seara fisik dan ekonomi, berkembangnya sistem kelembagaan    pangan di masyarakat yang partisipatif dalam menangani kerawanan pangan, meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, meningkatnya produksi  dan kualitas pangan seiring dengan peningkatan pendapatan para petani dan pelaku agribisnis lainnya, menurunnya volume impor bahan pangan dan meningkatnya bahan pangan substitusi impor, berkembangnya industri dan bisnis pangan dan meningkatnya partisipasi masyarakat dan investasi swasta dalam pengembangan bisnis pangan.
Padi merupakan salah satu komoditas strategis dan bernilai ekonomis, serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat merupakan salah satu tanaman yang diprioritaskan dalam ketahanan pangan Beberapa tahun terakhir kebutuhan padi terus meningkat, hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan untuk pangan.
Saat ini daerah penghasil padi sudah cukup banyak, produksinya pun sudah cukup tinggi. Dengan adanya perkembangan teknologi pemuliaan tanaman padi yang semakin maju (canggih), telah banyak diperkenalkan berbagai macam varietas unggul padi, seperti Ciherang, IR 64, dan lain-lain.
Budidaya tanaman padi di Indonesia sebenarnya sudah menggunakan teknologi yang cukup, akan tetapi ada hal yang sangat berperan dalam peningkatan produksi tanaman padi tersebut, yaitu penggunaan benih yang bermutu. Melihat keadaan petani sekarang lebih banyak menggunakan benih yang kurang bermutu, dikarenakan kurangnya pengetahuan pentingnya penggunaan benih bermutu. Untuk itu, pada makalah ini akan diangkat dengan tema “Peranan Benih Bermutu Terhadap Peningkatan Produksi Tanaman”.


B.       Tujuan
1.      Mengetahui sistem untuk mendapatkan benih bermutu.
2.      Proses pelaksanaan benih bisa terlaksana sesuai Standar Operasional Prosedur.
C.       Manfaat
1.      Petani bisa menggunakan benih yang bermutu pada usaha tani.
2.      Pihak yang berwenang (Balai Sertifikasi Benih) dapat merekomendasikan bahwa benih yang ada bisa diaplikasikan di lapangan.


II.  TINJAUAN PUSTAKA

A.      Benih
Berdasarkan Undang-Undang RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 4, benih didefinisikan sebagai berikut “Benih tanaman, selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman”.
Dari definisi di atas jelas bahwa benih dapat diperoleh dari perkembangbiakkan secara generatif maupun secara vegetatif yang diproduksi untuk tujuan tertentu, yaitu mengembangbiakkan tanaman. Dengan pengertian ini maka kita dapat membedakan antara benih (agronomy seed/seed) dengan biji (grain) yang dipakai untuk konsumsi manusia (food stuff) dan hewan (feed).
Untuk memproduksi benih ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain :
1.    Produksi benih harus memenuhi persyaratan sertifikasi benih (seed law) yang berlaku di negara benih tersebut akan diusahakan.
2.    Pemeliharaan varietas yang berhubungan dengan sifat genetis benih. Sifat genetis benih ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a.       Terjadinya polusi kromosom bagi varietas berserbuk silang, baik yang berasal dari varietas lain yang diusahakan di sekitarnya maupun yang berasal dari tanaman lain yang terdapat di lahan.
b.      Kondisi ekologis, jika suatu varietas diusahakan dalam kondisi ekologis yang tidak sesuai dengan persyaratan tumbuhnya secara terus menerus, maka akan terjadi perubahan sifat genetis.
c.       Input produksi harus optimal sehingga kualitas benih baik.
d.      Pengelolaan di lahan dilakukan sebaik mungkin.
e.       Serangan hama dan penyakit.
3.    Penentuan saat panen.
4.    Penanganan pasca panen.
5.    Rantai pemasaran.
B.       Proses Perkecambahan Benih
Proses awal perkecambahan adalah proses imbibisi, yaitu masuknya air ke dalam benih sehingga kadar air dalam benih mencapai persentase tertentu (antara 50 – 60 %). Proses perkecambahan dapat terjadi jika kulit benih permeable terhadap air dan tersedianya cukup air dengan tekanan asmosis tertentu.
C.       Faktor-Faktor Perkecambahan
Benih dapat berkecmbah bila tersedia set of factors selama terjadi proses perkecambahan itu. Set of factor terdiri dari :
1.         Air
Air merupakan salah satu faktor yang mutlak di perlukan dan tidak dapat di gantikan oleh faktor lain, seperti pemberian ransang atau perlakuan untuk memacu agar benih dapat berkecambah.
2.         Komposisi Gas
Benih yang berimbibisi akan meningkatkan laju respirasi karena kenaikan aktivitas enzim pernafasan akan mengakibatkan kebutuhan O2 juga meningkat. Proses ini sering disebut proses peragian.Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju pernafasan dan di pengaruhi oleh suhu, cahaya dan mikrorganisme yang tedapat pada benih.
Benih-benih varietas tertentu seringkali membutuhkan komposisi gas di udara yang khusus (Rasio O2 : CO2). Hal ini dapat di jumpai pula pada benih-benih yang menua (telah mengalami deteriosasi). Seringkali di jumpai benih dengan kulit benih yang permeable terhadap gas-gas. Sifat ini akan menghambat pernafasan atau bahkan menyebabkan proses ini tidak dapat berlangsung yang mengakibatkan tidak terjadinya proses perkecambahan. Untuk mengatasinya perlu diberi perlakuan  secara fisik, mekanis, kimiawi ataupun biologis sehingga kulit benih permeable terhadap gas.
Di samping oksigen yang sangat di butuhkan untuk pernafasan, di udara juga terdapat gas H2 yang dapat member pengaruh yang positif terhadap pernafasan. Sedangkan gas N2 bersifat negative atau menghambat pernafasan. Oleh karena itu gas N2 sering di berikan kedalam tempat penyimpanan benih agar laju pernafasan dapat di tekan seminimal mungkin. Pemberian gas N2 dapat menekan perombakan cadangan makanan.
3.         Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih, karena suhu berkaitan erat dengan laju pernafasan dan aktifitas enzim yang terdapat di dalam benih tersebut. Suhu juga mempengaruhi sintesis dan ke pekaan benih terhadap di pengaruhi oleh aktivitas cahaya. Di pihak Lain suhu juga di pengaruhi oleh aktifitas pernafasan karena hasil akhir dari pernafasan adalah energy dan air.
Suhu yang di butuhkan selama proses perkecambahan dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
a.       Suhu minimal, yaitu suhu terendah dimana benih masih dapat berecambah secara normal.
b.      Suhu optimum, yaitu suhu yang paling sesuia untuk perkecambahan benih.
c.       Suhu maksimal, yaitu suhu tertinggi di mana benih masih dapat berkecambah secara normal dan apabila benih berkecambah di atas suhu maksimal maka benih akan berkecambah dengan tidak normal bahkan tidak berkecambah.
4.         Cahaya
Selama proses perkecambahan ada benih yang membutuhkan cahaya, terutama benih yang memiliki pigment pada kulit benihnya, karena pigment ini berfungsi sebagai fotosel yang mampu mengubah cahaya matahari menjadi energi yang dapat membantu meningkatkan laju respirasi  dan sebagai energi untuk reaksi kimiawi yang bersifat endodermis.
a.    Pengaruh Intensitas Cahaya
Kebutuhan cahaya selama proses perkecambahan dapat diklasifikasikan sebaga berikut:
1.         Ada benih yang membutuhkan cahaya matahari selama proses perkecambahannya, sehingga harus di sebarkan di atas lahan untuk mengkecambahkannya.
2.         Ada benih yang tidak membutuhkan cahaya matahari selama proses perkecambahan, sehingga untuk proses mengecambahkannya benih tersebut dapat di benamkan di dalam tanah.
3.         Ada benih yang membutuhkan cahaya yang intensitasnya berganti, misalnya terang–gelap.
b.    Pengaruh Panjang Gelombang
Seperti di ketahui cahaya memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda dan hal ini sangat mempengaruhi proses perkecambahan benih. Pengaruh panjang gelombang terhadap perkecambahan dapat di bedakan menjadi
1.      Cahaya dengan panjang gelombang < 2900 A0 akan menghambat perkecambahan benih.
2.      Cahaya dengan panjang gelombang antar 2900 A0 – 4000 A0 engaruhnya terhadap perkecambahan tidak jelas atau tidak mempengaruhi perkecambahan.
3.      Cahaya dengan panjang gelombang antara 4000 A0 – 7000 A0 akan memacu perkecambahan.

D.      Pengujian Mutu Benih
Tujuan dari pengujian mutu benih adalah untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok benih yang akan digunakan untuk keperluan penanaman. Macam-macam pengujian mutu benih yang dapat dilakukan di laboratorium benih dibedakan atas 2 golongan, yaitu :
1.    Pengujian Standar
Adalah pengujian-pengujian untuk keperluan pengisian/pengecekan data label yang umumnya terdiri dari :
a.       Penetapan kadar air
b.      Pengujian kemurnian fisik
c.       Penetapan varietas lain
d.      Pengujian daya tumbuh
2.    Pengujian khusus/spesifik
Adalah pengujian tentang sifat-sifat benih yang mencirikan mutu spesifik dari benih atau kelompok benih yang hanya dilakukan atas permintaan khusus dari pengirim/pemilik benih. Pengujian khusus terdiri dari :
a.       Pengujian viabilitas benih secara biokhemis
b.      Penetapan berat 1.000 butir
c.       Pengujian heterogenitas kelompok benih
d.      Pengujian kesehatan benih
e.       Pengujian kebenaran/verifikasi jenis/kultivar
f.       Pengujian vigor

III.             METODE KERJA

A.      Pengambilan Contoh Benih
Sebagai langkah pertama dalam pengujian mutu benih adalah menyediakan contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah idtentukan oleh ISTA.
Tujuan penarikan contoh adalah untuk mendapatkan contoh benih yang mewakili kelompok benih dalam jumlah yang cukup untuk keperluan pengujian mutu benih. Benih pertanian dan holtikultura : untuk benih yang berukuran seperti Triticum spp atau lebih besar, berat maksimum untuk setiap kelompok benih adalah 20.000 kg. untuk benih yang lebih kecil dari Triticum spp, berat maksimumnya adalah 10.000 kg. benih pohon-pohonan : untuk benih yang berukuran seperti benih Fagus spp atau lebih besar, berat maksimumnya adalah 5.000 kg. untuk benih yang lebih kecil dari benih Fagus spp berat maksimumnya adalah 1.000 kg.
Prinsip pengambilan contoh benih adalah mengambil benih dari beberapa bagian dari suatu kelompok benih yang kemudian dicampur menjadi satu. Penarikan contoh dilakukan dengan mengambil benih dari berbagai sudut pada wadah terpilih dalam jumlah yang sama. Pada saat penarikan contoh, tangan dimasukkan dengan telapak tangan terbuka, dan pada saat dikeluarkan jari-jari tangan hendaknya menggenggam benih secara rapat, sehingga tidak ada satu pun benih yang terlepas ketika tangan dikeluarkan dari dalam wadah.
Benih-benih yang terambil dari setiap pengambilan contoh ini disebut contoh primer, sedangkan gabungan contoh-contoh primer disebut contoh komposit. Contoh benih yang diambil secara acak dari contoh komposit ini dapat digunakan sebagai contoh kiriman seberat 1.000 gram. Dari contoh kiriman ini kemudian diambil contoh kerja secara acak sebanyak 70-75 gram.
Adapun cara untuk mengambil benih contoh kerja menggunakan alat Seed Devider. Langkah-langkahnya antara lain :
a.    Benih contoh kiriman seberat 1.000 gram dimasukkan ke dalam Seed Devider.
b.    Pada Seed Devider terdapat dua tempat pemisah/pembagi berat yang seimbang (50:50).
c.    Pada ulangan pertama, tempat pemisah tersebut diberi tanda bagian A dan bagian B.
d.   Setelah benih dipisahkan pada dua tempat, maka diambil bagian A untuk dimasukkan ke dalam Seed Devider dan bagian B dimasukkan ke dalam kantong plastik.
e.    Kemudian hasil dari pemisahan bagian A tadi menjadi dua bagian, maka dilakukan pergantian bagian yang dimasukkan ke Seed Devider (bagian B), begitu selanjutnya sampai kira-kira kita bisa mendapatkan benih contoh kerja dengan berat 70-75 gram (74,14 gram).

B.       Penetapan Kadar Air
1.    Tujuan
                        Untuk mengetahui kadar air benih dengan menggunakaan metode yang sesuai bagi keperluan rutin.
2.    Definisi
                        Kadar air benih adalah berat air yang hilang karena pemanasan atau air yang dapat di kumpulkan karena destilasi (dengan cara yang di tetapkan ) yang dinyatakan dalam persen terhadap berat asli contoh benih. Metode yang di tetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanyak mungkin tetapi dapat menekan terjadinya oksidasi , dekomposisi, atau hilangnya zat-zat yang mudah menguap.
3.    Prinsip
                        Metode yang di tetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan air sebanayak mungkin tetapi dapat menekan terjadinya oksidasi, dekomposisi, atau hilangnya zat-zat yang mudah menguap.
4.    Bahan dan Alat
Bahan :
-            Benih yang akan di uji dari contoh kerja
Peralatan :
-            Alat penghancur benih (seed grinder)
-            Oven
-            Desikator
-            Wadah
-            Cawan petri tertutup
-            Saringan
-            Timbangan analitik
-            Moisture tester
5.    Prosedur
a.    Contoh kerja benih
-       Metode oven : 4 – 5 gram (2 ulangan)
-       Metode moisture tester : di sesuaikan dengan contoh kiriman
b.    Pengeringan pendahuluan
Apabila benih memiliki kadar air tinggi (dicheck dengan moisture tester) dengan ketentuan : kedelai >10%, padi >13%, benih lain >17%.
a)    Untuk benih dengan kadar air > 20%
-         Contoh kerja seberat 50 gram.
-         Kadar air jagung  > 25% pengeringan pendahuluan dengan suhu 70o C selama 2 – 5 jam.
-         Kadar air benih lain > 30% pengeringan pendahuluan selama 1 malam di tempat yang hangat (di atas oven yang di hidupkan).
b)   Untuk benihdengan kadar air  < 20%
-         Contoh kerja 10 gram di masukkan kedalam cawan petri yang sudah di ketahui beratnya, kemudian di keringkan ke dalam oven dengan suhu 130o–133o C selama 5–10 menit.
Setelah selesai proses pengeringan pendahuluan benih di biarkan dalam keadaan terbuka selama 1-2 jam supaya dingin, kemudian ditimbang dengan ketelitian 3 desimal.

c.    Metode oven
a)         Sebelum di gunakan , wadah (cawan petri + tutup) di panaskan di oven dengan suhu 130oC selama 1 jam, kemudian di dinginkan dalam desikator.
b)        Setelah dingi cawan petri + tutup di timbang (M1 gram) kemudian dimasukkan contoh kerjanya dan ditimbang lagi (M2 gram).
c)         Masukkan ke dalam oven setelah suhu mencapai 130oC – 133oC dengan waktu tergantung jenis benih dengan tutup cawan petri terbuka. Untuk benih jagung 4 jam, padi 2 jam, benih lain 1 jam.
d)        Setelah pengeringan cawan di tutup di letakkan dalam desikator selama 30 - 45 menit.
e)         Setelah dingin wadah + isi + tutup di timbang (M3 gram).
6.    Perhitungan
Menggunakan metode oven
Kadar air oven = (M2 – M3) X 100%
                    (S1)             (M2 – M1)
            Keterangan :
M1 : berat wadah + tutup dalam gram.
M2 : berat wadah + isi + tutup dalam gram sebelum di keringkan.
M3 : berat wadah + isi + tutup dalam gram sesudah di kringkan

Untuk pengeringan pendahuluan rumus kadar air adalah
Kadar air pendahuluan  = (S1 + S2) – S1 x S2
                                                                           100%

Keterangan :
S1 : kadar air pada pengeringan pertama ( pengeringan pendahuluan).
S2 : kadar air pada pengeringan ke dua (oven).


Toleransi
Antara kedua contoh kerja tersebut maximum 0,2%, apabila perbedaan contoh kerja lebih dari 0,2% maka harus di ulang kembali.

7.    Hasil
Dik
M1 Berat cawan petri + tutup
U1 = 56,277 gr            U2 = 56,862 gr
Berat isi
U1 = 4,987 gr              U2 = 4,993 gr
M2 berat cawan + isi + tutup sebelum dioven
U1  = 61,213 gr           U2 = 61,855 gr
M3 Berat cawan + Isi + tutup sesudah dioven
U1 = 60,536                U2 = 61,178
Ulangan 1
M3  = (M2 – M3) x 100%
           (M2 – M1)
M3 = (61,213 – 60,536) x 100%
           (61,213 – 56,227)
      = 13,5%

Ulangan 2
M3  = (M2 – M3) x 100%
(M2 – M1)
M3 = (61,885 – 61,178) x 100%
           (61,885 – 56,862)
      = 13,5%
8.    Kesimpulan
-       Penetapan kadar air dengan menggunakan metode oven merupakan metode yang sangat akurat, tetapi memerlukan waktu yang lama dan ketelitian dalam pelaksanaan.
-       Penetapan kadar air dengan menggunakan alat pengukur kadar air (moinsture tester) memberikan hasil yang cepat dalammengukur kadar air, secara tidak langsung di pengaruhi oleh kandungan airnya.


C.       Analisis Kemurnian
1.    Tujuan
a.       Untuk menentukan komponen benih berdasarkan persentase berat komponen dalam contoh yang mencerminkan komposisi benih dalam lot.
b.      Mengidentifikasi benih tanaman dan kotoran dalam contoh benih.
2.    Prinsip
Pada prinsipnya analisis kemurnian di laboratorium adalah memisahkan contoh benih dalam 3 (tiga) komponen yaitu komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih.
3.    Definisi
a.       Benih murni
Benih murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau secara dominan di tentukan dalam contoh benihtermasuk jenis-jenis varietas lain dalam jenis tanaman tersebut.
b.      Benih tanaman lain
Benih tanaman lain adalah benih tanaman selain yang di masukkan oleh pengirim.
c.       Kotoran benih
Meliputi benih dan bagian dari benih serta bahan-bahan lain yang bukan bagian dari benih, seperti :
a.       Benih yang terlihat jelas bukan benih sejati.
b.      Benih dari kulit benih yang sudah terkelupas semua.
c.       Pecahan benih dengan ukuran ½ atau kurang dari ½ ukuran normal.
d.      Benih rusak tanpa lembaga.
e.       Benih yang berubah warna dari abu-abu menjadi putih kecoklatan.
f.       Cangkang benih atau kulit benih.
g.      Bahan lain seperti pasir, batu, batang jerami, daun, tangkai bunga, dan lain-lain.
4.    Prosedur 
Untuk melakukan analisis kemurnian di perlukan penganbilan contoh kerja dengan cara menimbang hingga di peroleh dalam satuan gram, yang kemudian memisahkan contoh kerja dalam komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih dengan cara sebagai berikut.
a.       Contoh kerja di sebarkan di meja kerja.
b.      Setiap benih di identifikasi satu persatu secara visual berdasarkan penampakan morfologis (bentuk, warna, kemengkilapan, tekstur luar) dan atau penampakan dibawah cahaya.
c.       Semuah benih tanaman lain dan kotoran benih yang di temukan, diambil dan dipisahkan dari benih murni.
d.      Setiap komponen di timbang dalam satuan gram dan di catat.
e.       Komponen-komponen tersebut disimpan sebagai arsip contoh kerja sampai batas yang ditentukan.
5.    Hasil
a.       Benih contoh kerja            = 74,14 gram
b.      Benih murni                      = 73,18 gram
c.       Varietas lain                      =   0,00 gram
d.      Kotoran                             =   0,96 gram
Maka, yang dicatat adalah bukan dalam bentuk gram tetapi dalam bentuk persen, sehingga didapat hasil sebagai berikut :
a.       Benih murni           = Benih murni (gr)            x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 73,18 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 98,7 %
b.      Varietas lain          = Varietas lain (gr)            x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 0,00 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 0,0 %
c.       Kotoran                 = Kotoran (gr)                   x 100 %
               Benih contoh kerja (gr)
            = 0,96 gr    x 100 %
               74,14 gr
            = 1,3 %


D.      Pengujian Daya Kecambah
1.      Tujuan
Pengujian daya berkecambah bertujuan untuk menentukan potensi perkecambahan maksimum dari suatu lot benih, yang dapat di gunakan untuk membandingkan mutu benih dari lot yang berbeda, dan untuk menduga daya tumbuh di lapangan.
2.      Definisi
a.       Perkecambahan
Perkecambahan adalah proses perkembangan struktur esensial (system perakaran, tunas, kotiledon, titik tumbuh, dan koleoptil kecambah) melalui tahapan-tahapan dimana struktur esensial mampu berkembang secara normal dalam kondisi lingkungan yang sesuia.
b.      Benih-benih berkecambah yang sampai akhir periode pengujian di klasifikasikan menurut :
a)      Kecambah normal yaitu kecambah yang semua struktur esensialnya berkembang dengan baik, lengkap, proposional (seimbang) dan sehat.
b)     Kecambah abnormal yaitu kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk menjadi tanaman yang tumbuh normal.
Kecambah abnormal di kategorikan apabila :
1.      Kecambah rusak
2.      Kecambah cacat
3.      Kecambah busuk
c)      Benih keras ya itu benih yang tetap keras hingga akhir periode pengujian yang diakibatkan oleh kekerasan atau kekedapan kulitnya sehingga tidak mampu berimbibisi atau menyerap air.
d)     Benih segar tidak tumbuh yaitu benih yang tidak dapat berkecambah dalam kondisi optimum mampu berimbibisi dan masih bersih, kuat serta memiliki potensi  untuk berkembang menjadi kecambah normal.
e)      Benih mati yaitu benih yang pada akhir pengujian di tandai dengan benih busuk, lunak, bercendawan, berubah warna dan tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan kecambah.
3.      Bahan dan Alat
a.       Media tumbuh : kertas (kertas saring, bolter atau towel) dan pasir.
b.      Pinset, counter, germinator, bak perkecambahan dan aquadest.
4.      Pelaksanaan pengujian
-          Contoh kerja “empat ratus (400) buti di ambil dari fraksi benih murni”.
-          Metode tanam “benih di tabur dalam empak kali ulangan masing-masing 100 butir”.
a.       Pada kertas
            Benih di letakkan pada permukaan kertas basah yang terdiri dari 3 lapis kertas  yang telah diletakkan pada bak perkecambahan kemudian di lipat dan di gulungkemudian masukkan dalam kantong plastik setelah itu masukkan kedalam germinator dalam posisi berdiri.

b.      Pada pasir
            Benih di tabur dalam lubang-lubang yang telah di sediakan kemudian di taburi pasir lembab setebal 1-2 cm.
5.      Periode pengujian
         Periode pengujian untuk tiap-tiap jenis benih berbeda-beda tapi standar periode pengujiannya 7-10 hari. Untuk jumlah dan waktu pengamatantergantung dari analisis tetapi seminimal mungkin untuk menghindari kerusakan kecambah yang perkembangannya lambat.

Melihat dari apa yang dilakukan di atas, maka dapat dibuat skema sederhana tentang bagaimana prosedur melakukan pengujian benih standar. Gambar skema Pengujian Standar



IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A.      Kesimpulan
1.       Untuk mendapatkan benih yang bermutu harus melalui prosedur yang telah ditentukan.
2.      Dari hasil pelaksanaan praktik yang telah dilaksanakan, bahwa pada perlakuan benih mempunyai tahap yang saling berkaitan.
B.       Saran
1.       Pihak yang terkait selalu memperhatikan keadaan di lapangan tentang penggunaan benih bermutu.
2.       Petani mau menggunakan benih yang bermutu untuk meningkatkan produkstivitas tanaman
3.      Harus selalu ada sosialisai tentang penggunaan benih bermutu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar